Rupee masih rentan terhadap tekanan menjelang rilis data inflasi AS

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupee terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mulai sedikit terapresiasi, namun masih cukup rentan melemah lebih lanjut di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat pelonggaran inflasi AS yang akan datang.

Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup pada level Rp 15.690/US$ pada penutupan perdagangan Rabu (10/11/2023) kemarin, menguat 0,25% dalam sehari dan mematahkan penurunan beruntun dua hari.

Meski menguat, namun tren besarnya masih melemah, hal ini disebut-sebut disebabkan sejumlah tekanan eksternal yang masih memanas. Sebut saja inflasi, tadi malam AS mendapatkan data Inflasi Produsen (PPI) September 2023.

Secara bulanan, PPI bulan September turun menjadi 0,5% dari 0,7% pada bulan sebelumnya, namun masih lebih hangat dari perkiraan pasar sebesar 0,3%. Sementara itu, secara tahunan, PPI sebenarnya sebesar 2,2%, dibandingkan dengan bulan Agustus yang sebesar 2% dan ekspektasi pasar sebesar 1,6%.

Data Inflasi Konsumen (CPI) yang akan dirilis malam ini diprediksi akan menjadi data penting yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) ke depan.

FYI, inflasi AS diperkirakan meningkat sebesar 3,6% secara tahunan (year-over-year) pada September 2023, turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,7%. Sementara itu, inflasi inti di AS diperkirakan turun menjadi 4,1% tahun-ke-tahun, dibandingkan sebelumnya 4,3% tahun-ke-tahun.

Secara keseluruhan, ekspektasi tersebut masih jauh di atas target The Fed yaitu sekitar 2%, yang tampaknya akan meleset pada tahun ini. Saat ini fokusnya lebih pada ekspektasi pasar, jika inflasi tumbuh lebih lambat maka pelaku pasar perlu berhati-hati. Pasalnya, inflasi yang masih panas akan menyebabkan The Fed tetap hawkish.

Baca Juga  Masa jabatannya akan segera berakhir, begitu pula dengan pensiunnya Jokowi

Di sisi lain, masih banyak senjata dari dalam negeri yang diperkirakan bisa menopang rupiah ke depan, bahkan mata uang Garuda diyakini bisa menguat hingga Rp 15.000/USD.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja di depan gerbang UOB pada Konferensi ASEAN 2023 pada Rabu (10/11/2023).

“Keseimbangan dan keseimbangan eksternal Indonesia tetap kuat, investasi asing langsung bersih dan surplus transaksi berjalan menciptakan lingkungan yang relatif stabil bagi rupiah, dan tahun depan kami memperkirakan rupiah akan kembali turun di bawah Rp15.000,” kata Enrico.

Salah satu senjata Devisa Hasil Ekspor (DHE) Bank Indonesia (BI) untuk menjamin stabilitas rupiah diperkirakan mulai berdampak. Sebagai informasi, bank negara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatat kenaikan penerimaan devisa hasil ekspor (DHE) pada Agustus 2023 sebesar 66% dibandingkan Juni 2023. Seperti diketahui, BNI merupakan salah satu bank yang ditunjuk untuk menerima deposito berjangka penerimaan devisa hasil ekspor.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menjelaskan, total volume DHE yang dihimpun bermacam-macam bentuknya seperti deposito, giro, giro, tabungan, dan deposito berjangka dalam mata uang asing.

“Pada tahap awal ini, kami melihat minat eksportir untuk menggunakan produk perbankan dalam negeri seperti penjaminan dan pinjaman agunan tunai semakin membaik, sehingga ini menjadi layanan yang dapat kami perkuat ke depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Senin (9 Oktober 2023).

Pemerintah memiliki kebijakan yang mewajibkan DHE ditempatkan di sistem keuangan Indonesia minimal 30% selama minimal tiga bulan sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 36 Tahun 2023. Aturan ini mulai berlaku pada 1 Agustus 2023 dan berlaku untuk mengekspor barang hasil perdagangan, pengelolaan, dan/atau pengolahan sumber daya alam (SDA).

Baca Juga  Tak Mudah, Ini Tantangan Indonesia Ciptakan Pertukaran CPO!

Rupiah Teknis

Secara teknikal rupee masih berada dalam tren turun, meski secara grafik per jam terlihat penguatan tipis hingga tembus ke bawah rata-rata 20 jam atau moving average 20 (MA20). Begitulah posisi penutupan perdagangan kemarin mulai menguji garis MA lainnya yaitu MA50.

Garis MA50 di IDR/US$ 15.680 merupakan posisi support lainnya yang berpotensi untuk diuji dalam jangka pendek. Posisi ini juga bisa dijadikan sasaran penguatan. Namun seiring tren besar yang terus melemah, kita masih harus mencermati potensi target pelemahan harga berikutnya di Rp/US$ 15.730, yang bertepatan dengan harga tertinggi yang diuji pada Selasa (10/10/2023).




Pergerakan rupee terhadap dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupee terhadap dolar AS

RISET CNBC INDONESIA
[email protected]

Penafian: Artikel ini merupakan produk jurnalistik opini CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembaca untuk membeli, menahan atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada di tangan pembaca, oleh karena itu kami tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan apa pun yang diakibatkan oleh keputusan ini.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel lain

Tensi Politik Meningkat, Akankah Rupee Terus Menguat?

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *